Kajian TV
Welcome
Login

Hak Dalam Islam: Hak-Hak Istri (Bagian Ke-1) - (Ustadz Abu Ya'la Kurnaedi, Lc.)

Thanks! Share it with your friends!

URL

You disliked this video. Thanks for the feedback!

Sorry, only registred users can create playlists.
URL


Added by Rodja TV in Rodja TV
46 Views

Description

Alhamdulilah, kita dapat simak kembali pembahasan ilmiah dari kitab Tabshiratul Anam bil Huquqi fil Islam karya Syaikh Abu Islam Shalih bin Thaha Abdul Wahid hafidzahullah. Kajian kitab yang lalu telah menyelesaikan pembahasan hak ke-14 tentang “Hak-Hak Suami atas Istrinya“, dan pada kesempatan kali ini, yaitu yang tayang live di Rodja TV pada Senin malam, 2 Rajab 1436 / 20 April 2015, pukul 18:00-19:05 WIB, pembahasan dilanjutkan kepada Hak ke-15 tentang “Hak-Hak Istri atas Suaminya (Bagian ke-1)“. Silakan simak ceramah oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. ini yang disampaikan di Masjid Al-Barkah, Komplek Studio Rodja, Kampung Tengah, Cileungsi, Bogor.

NB: 1. Mohon maaf, tidak ada sesi tanya-jawab pada saat kajian ini berlangsung.
2. Mohon maaf, rekaman video ceramah ini tidak lengkap. Anda dapat menyimak ceramah ini lebih komplit dengan mengunduh / mendengarkan rekaman audionya.

Lanjutan dari: Hak-Hak Suami atas Istrinya

Kitab Tabshiratul Anam bil Huquqi fil Islam
Hak-Hak Istri atas Suaminya

Pada kesempatan yang mulia ini, kita memasuki hak yang ke-15 tentang “Hak Istri atas Suaminya”. Pada pertemuan yang lalu, kita membahas “Hak Suami atas Istrinya”.

Penulis (Syaikh Shalih bin Thaha Abdul Wahid – Red) sebelum berbicara tentang hak istri yang harus dipenuhi oleh suaminya, beliau memberi muqoddimah tentang wanita di masa Jahiliyah sebelum Islam dan wanita dalam Islam, setelah itu baru berbicara tentang hak-hak istri yang wajib ditunaikan oleh suaminya.
Wanita pada Masa Jahiliyah (Sebelum Islam)

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan di dalam Al-Qur’an, Surat An-Nahl: 58-59:

وَإِذَا بُشِّرَ‌ أَحَدُهُم بِالْأُنثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ ﴿٥٨﴾ يَتَوَارَ‌ىٰ مِنَ الْقَوْمِ مِن سُوءِ مَا بُشِّرَ‌ بِهِ ۚ أَيُمْسِكُهُ عَلَىٰ هُونٍ أَمْ يَدُسُّهُ فِي التُّرَ‌ابِ ۗ أَلَا سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ ﴿٥٩﴾ – ﴿النحل : ٥٨-٥٩﴾
“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. (58) Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?. Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (59)” (QS An-Nahl [16]: 58-59)

Ayat yang mulia ini jelas sekali mengabarkan kepada kita bagaimana perlakuan manusia di zaman Jahiliyah, sebelum datangnya Islam, di mana wanita itu dianggap cela / aib. Ketika lahir anak bayi wanita, maka kaum Jahiliyah merasa hal itu sesuatu hal yang cela / aib. Oleh karena itu, banyak di antara mereka yang menguburkan anaknya hidup-hidup.

Ini di antara hal yang disebutkan oleh penulis, bagaimana wanita itu di zaman Jahiliyah.

Adapun wanita di negeri-negeri kaum kafir, ketika anak wanita itu kecil, mereka tidak suka dengan anak wanita itu. Kalau anak wanita itu sudah dewasa, maka dianggapnya seperti barang dagangan yang murah dan tidak ada harganya. Kalau sudah tua, mereka tidak sanggup mengurus, maka mereka pun membawa wanita yang sudah tua tersebut, ibu-ibu mereka itu, kemudian ditaruh di panti jompo. Kemudian setiap tahunnya, ada 1 hari yang mereka wajib untuk mengunjungi ibu-ibunya tersebut. Inilah yang disebut dengan Hari Ibu, menurut mereka. Dan sebagian dari kita ternyata taqlid kepada mereka dalam hal ini, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Jadi, Hari Ibu itu adalah dari orang kafir. Mereka durhaka terhadap ibu mereka, tidak tahu cara berbakti kepada ibu mereka. Ketika ibunya lemah dan tua renta, kemudian dititipkan di panti jompo. Setahun sekali ada hari bernama Hari Ibu, kemudian mereka muliakan para ibu, namun sesudah itu melupakannya lagi. Kita, kaum Muslimin, tidak boleh mengikuti adat-istiadat orang-orang kafir. Kita sudah punya ajaran tersendiri dari Islam, dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang mulia ‘alaihish shalatu was salam.

Inilah keadaan kaum wanita, dan ini wajib kita ketahui dan wajib diketahui oleh para wanita, agar kita tahu apa yang diinginkan oleh musuh-musuh Islam terhadap wanita-wanita Muslimah yang punya kehormatan. Wanita Muslimah dalam Islam ketika lahir dimuliakan, bahkan diaqiqahi, kemudian bapak-ibunya menyayanginya. Ketika besar, disayangi oleh suaminya dan wajib bagi suami menafkahinya. Ketika wanita tersebut punya anak, anak-anaknya diperintahkan oleh Allah untuk berbakti kepada orang tua, dan berbakti yang paling wajib dari kedua orang tua adalah berbakti kepada ibunya dahulu.

Mari simak kajian kitab Tabshiratul Anam bil Huquqi fil Islam yang membahas awal dari bab “Hak-Hak Istri”.

Rekaman audio: http://www.radiorodja.com/?p=13094
Rodja.TV: http://rodja.tv/1887

Post your comment

RSS