Kajian TV
Welcome
Login

Adab Harian Muslim: Ziarah Kubur Nunggu Ramadhan? Bukanlah Syariat

Thanks! Share it with your friends!

URL

You disliked this video. Thanks for the feedback!

Sorry, only registred users can create playlists.
URL


Added by Sunnah Channel in
21 Views

Description

Tonton di SAFDAH TV:
https://youtu.be/jRSLwChieDM

Facebook SAFDAH TV:
https://www.facebook.com/safdahtv/videos/1739006319513674/

Instagram SAFDAH TV:
https://www.instagram.com/p/BivMSmCl8a0/

Video Lain Tonton & Subscribe SAFDAH TV di
https://www.youtube.com/user/safaridakwah2014

Follow @safdahtv

ZIARAH KUBUR (NYEKAR / NYADRAN) KETIKA MAU RAMADLAN? BUKAN SYARIAT

Tidaklah tepat ada yang meyakini bahwa menjelang bulan Ramadhan adalah waktu utama untuk menziarahi kubur orang tua atau kerabat (yang dikenal dengan “nyadran”).

Kita boleh setiap saat melakukan ziarah kubur agar hati kita semakin lembut karena mengingat kematian. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الآخِرَةَ
“Lakukanlah ziarah kubur karena hal itu lebih mengingatkan kalian pada akhirat (kematian).” (HR. Muslim no. 976, Ibnu Majah no. 1569, dan Ahmad 1: 145).

Namun masalahnya adalah jika seseorang mengkhususkan ziarah kubur pada waktu tertentu dan meyakini bahwa menjelang Ramadhan adalah waktu utama untuk nyadran atau nyekar. Ini sungguh suatu kekeliruan karena tidak ada dasar dari ajaran Islam yang menuntunkan hal ini.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَلاَ تَجْعَلُوا قَبْرِى عِيدًا وَصَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِى حَيْثُ كُنْتُمْ

“Janganlah jadikan rumahmu seperti kubur, janganlah jadikan kubur sebagai ‘ied, sampaikanlah shalawat kepadaku karena shalawat kalian akan sampai padaku di mana saja kalian berada.” (HR. Abu Daud no. 2042 dan Ahmad 2: 367. Hadits ini shahih dilihat dari berbagai jalan penguat, sebagaimana komentar Syaikh ‘Abdul Qodir Al Arnauth dalam catatan kaki Kitab Tauhid, hal. 89-90).

Dalam ‘Aunul Ma’bud (6: 23) disebutkan, “Yang dimaksud ‘ied adalah perkumpulan di suatu tempat yang terus berulang baik tahunan, mingguan, bulanan, atau semisal itu.”

Ibnul Qayyim dalam Ighotsatul Lahfan (1: 190) mengatakan, “Yang dimaksud ‘ied adalah waktu atau tempat yang berulang datangnya. Jika ‘ied bermakna tempat, maksudnya adalah tempat yang terus menerus orang berkumpul di situ untuk melakukan ibadah dan selainnya. Sebagaimana Masjidil Haram, Mina, Muzdalifah, Arafah, masya’ir dijadikan oleh Allah sebagai ‘ied bagi orang-orang beriman. Sebagaimana hari dijadikan orang-orang berkumpul di sini disebut sebagai ‘ied (yaitu Idul Adha). Orang-orang musyrik juga memiliki ‘ied dari sisi waktu dan tempat. Ketika Allah mendatangkan Islam, perayaan yang ada diganti dengan Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr). Sedangkan untuk tempat sebagai ‘ied, digantikan dengan Ka’bah, Mina, Muzdalifah dan Masya’ir.”

Ibnu Taimiyah berkata bahwa hadits tersebut mengisyaratkan bahwa shalawat dan salam bisa sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari dekat maupun jauh, sehingga tidak perlu menjadikan kubur beliau sebagai ‘ied. Demikian dinukil dari Fathul Majid (hal. 269).

Lokasi LEGENDA WISATA

Safdah TV mengajak anda berpartisipasi dalam dakwah dengan berdonasi melalui rekening kami di:

NO. REK: 7105052426
A.N: YAYASAN CINTA SUNNAH
BANK SYARIAH MANDIRI CIBUBUR

CP 087877867766

Bantu share yuuk.. biar lebih bermanfaat & lebih ramai lagi di sosmed.. untuk menjadi ladang pahala kita... insya Allah

#kajianislam #kajianilmiah #dakwah #islam #safdahtv #bekalmuslim #IslamMenjawab #TanyaIslam #TanyaUstadz #UstadzDitanya #kajianyuk #ikhwanjakarta #indonesiabertauhid #celotehmuslim #pemudahijrah #beranihijrah #adabmuslim #adabharianmuslim #indonesia #jakarta #bandung #surabaya #medan #yogyakarta #ikutsunnahkeren #nyekar #nyadran #ramadhan #ramadlan #ziarah #kubur #kuburan

Tim Safari Dakwah UB Cinta Sunnah 2015 (Safdah TV)

Post your comment

RSS