Kajian TV
Welcome
Login

Tafsir Surat Al-Ma'arij (Bagian 4) Dan Surat Nuh (Bagian 1) - (Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc.)

Thanks! Share it with your friends!

URL

You disliked this video. Thanks for the feedback!

Sorry, only registred users can create playlists.
URL


Added by Sunnah Channel in
24 Views

Description

Ceramah agama ini adalah lanjutan kajian Tafsir Al-Qur'an, atau lebih tepatnya lagi Tafsir Juz 29. Ceramah ini mengangkat "Tafsir Surat Al-Ma'arij (Bagian ke-4) dan Surat Nuh (Bagian ke-1)", di mana disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kampung Tengah, Cileungsi, Bogor pada Selasa malam, 4 Sya'ban 1437 / 10 Mei 2016, pukul 18:00-19:00 WIB.

NB: Mohon maaf, tidak ada sesi tanya-jawab pada saat kajian ini berlangsung.

Tafsir Surat Al-Ma’arij (Bagian ke-4) dan Surat Nuh (Bagian ke-1)
Tafsir Surat Al-Ma’arij
أَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ أَن يُدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيمٍ ﴿المعارج : ٣٨﴾
“Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam surga yang penuh kenikmatan?” (QS Al-Ma’arij [70]: 38)

Ini sudah kita jelaskan kemarin, bahwa orang-orang kafir itu berpaling daripada peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka lari, mereka tidak mau mengambil, tidak mau mendengar, dan mereka bercerai berai setelah datang kepada mereka bayyinah (keterangan), karena memang yang namanya perpeceahan itu biasanya muncul setelah datangnya keterangan. Kalau sebelum datang keterangan tidak disebut bercerai berai, tidak disebut berpecah belah. Disebut bercerai berai / berpecah belah itu ketika sudah datang kepadanya keterangan. Di sana ada yang ikut kebenaran, di sana ada yang tidak mau ikut kebenaran. Ketika ada yang ikut kebenaran dan di sana ada yang tidak mau ikut (kebenaran), (maka) pasti pecah. Ada orang yang mengikuti Al-Qur’an, ada yang tidak mau ikut, (maka) pecah.

Perpecahan yang terjadi karena menjelaskan kebenaran lebih baik daripada kita diam (kemudian) malah tersebar kesesatan. Terkadang sebagian orang berkata begini: “Oh itu dakwah sunnah memecah belah,” sampai-sampai sebagian mereka berkata begini: “Lebih baik bid’ah yang mempersatukan daripada sunnah yang memecah belah.” Ini kaidah yang sangat aneh. Masak Sunnah Nabi yang itu merupakan ajaran Nabi, yang itu jelas-jelas dianjurkan oleh Nabi, dan tentunya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mungkin berbicara dari hawa nafsunya dikatakan katanya memecah belah.

Kalau yang dimaksud dengan “memecah belah” itu artinya memecah antara pengikut kebenaran dengan pengikut kebatilan (maka) itu harus. Semua nabi dan rasul pasti memecah antara yang haq dan yang bathil. Maka dari itu, nama lain Al-Qur’an adalah Al-Furqon, artinya pembeda, pembeda antara yang haq dan yang bathil. Maka dari itu, ketika datang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ternyata Rasulullah memecah antara yang mengikuti kebenaran dengan yang tidak mau mengikuti kebenaran.

Tafsir Surat Nuh dimulai dari menit dan detik ke-32:16.

Mari simak kajian Tafsir Surat Al-Ma’arij dan Tafsir Surat Nuh di video ceramah ini.

Rekaman audio: http://www.radiorodja.com/?p=20814
Rodja.TV: http://rodja.tv/2884

Post your comment

RSS